Showing posts with label Bahasa Indonesia I. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia I. Show all posts

Kutipan dan Daftar Pustaka

Monday, January 10, 2011
Kutipan

Kutipan adalah pinjaman pendapat atau gagasan dari seorang penulis, baik dalam bentuk tulisan maupun tulisan seperti didalam buku, majalah, surat kabar, internet, dan media elektronik lainnya.Kutipan berfungsi sebagai pengokohan argumentasi dalam sebuah karangan. Seorang penulis tidak perlu membuang waktu untuk menyelidiki suatu hal yang sudah dibuktikan kebenarannya oleh penulis lain, penulis cukup mengutip karya orang lain tersebut.

Dengan demikian kutipan memiliki fungsi sebagai:
a. landasan teori
b. penguat pendapat penulis
c. penjelasan suatu uraian
d. bahan bukti untuk menunjang pendapat itu.

Berdasarkan fungsi di atas seorang penulis harus memperhatikan hal-hal berikut:
1) penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu perlu
2) penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan
3) kutipan dapat terkait dengan penemuan teori
4) jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung
5) penulis mempertimbangkan jenis kutipan, kutipan langsung atau kutipan tak langsung
6) perhatikan teknik penulisan kutipan dan kaitannya dengan sumber rujukan

Prinsip Mengutip
a. Karena kutipan itu pada dasarnya adalah pinjaman pendapat seseorang, maka pengutip jangan mengadakan perubahan, baik kata-katanya mau pun tekniknya. Bila penulis terpaksa mengadakan perbaikan, misalnya dianggap ada kesalahan, penulis harus memberi keterangan.

Contoh:
‘Tugas bank antara lain adalah memberi pinjam uang.’
Pengutip tahu bahwa dalam kalimat itu ada kata yang salah, namun pengutip tidak boleh memperbaikinya.

Cara memperbaikinya:
1) ‘Tugas bank antara lain memberi pinjam [seharusnya, pinjaman,
penulis] uang.’
2) ‘Tugas bank antara lain memberi pinjam [Sic!] uang.’
[Sic!] artinya dikutip sesuai dengan aslinya.
Cara 2) ini lebih umum.

b. Menghilangkan bagian kutipan
Dalam kutipan diperkenankan menghilangkan bagian-bagian kutipan dengan syarat bahwa penghilangan bagian itu tidak menyebabkan perubahan makna. Caranya:
1) menghilangkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea. Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi
2) menghilangkan bagian kutipan yang lebih dari satu alinea. Bagian yang dihilangkan diganti dengan titik berspasi sepanjang garis (dari margin kiri sampai ke margin kanan)

Jenis Kutipan
1. Kutipan langsung
Kutipan langsung adalah kutipan yang ditulis sama persis dengan sumber aslinya, baik bahasa maupun ejaannya.

Cara penulisannya adalah sebagai berikut :
• Kutipan yang panjangnya kurang dari empat baris dimasukkan ke dalam teks,
-Diketik seperti ketikan teks
-Diawali dan diakhiri dengan tanda petik (“)
-Sumber rujukan ditulis langsung sebelum atau sesudah teks kutipan
-Rujukan ditulis diantara tanda kurung, dimulai dengan nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka, tanda koma, tahun terbitan, titik dua, spasi, dan diakhiri dengan nomor halaman (Penulis, Tahun:Halaman).

• Kutipan yang terdiri dari empat baris atau lebih,
-Diketik satu spasi
-Dimulai tujuh ketukan dari batas tepi kiri
-Sumber rujukan ditulis langsung sebelum teks kutipan
-Apabila pengutip memandang perlu untuk menghilangkan beberapa bagian kalimat, pada bagian itu diberi titik sebanyak tiga buah
-Bila pengutip ingin menghilangkan satu kalimat atau lebih, maka pada bagian yang dihilangkan tersebut diganti dengan titik-titik sepanjang satu baris
-Apabila pengutip ingin memberi penjelasan atau menggarisbawahi bagian yang dianggap penting, pengutip harus memberikan keterangan. Keterangan tersebut berada diantara tanda kurung, misalnya: (garis bawah oleh pengutip)
-Apabila penulis menganggap bahwa ada satu kesalahan dalam kutipan, dapat dinyatakan dengan menuliskan symbol (sic!) langsung setelah kesalahan tersebut
Kutipan langsung ditampilkan untuk mengemukakan konsep atau informasi sebagai data. Titik-titik sepanjang satu baris menandai penghilangan sebuah kalimat, titik-titik sebanyak tiga menandai penghilangan kata, dan (sic!) menandai adanya kesalahan dalam kalimat

2. Kutipan tidak langsung
Kutipan tidak lansung adalah kutipan yang tidak sama persis dengan aslinya. Pengutip hanya mengambil pokok pikiran dari sumber yang dikutip untuk dinyatakan kembali dengan kalimat yang disusun oleh pengutip. Adapun cara peraturan dalam pembuatannya adalah sebagai berikut :
-Kalimat-kalimat yang mengandung kutipan ide tersebut ditulis dengan spasi rangkap sebagaimana teks biasa
-Semua kutipan harus dirujuk
-Sumber sumber rujukan dapat ditulis sebelum atau sesudah kalimat-kalimat yang mengandung kutipan
-Apabila ditulis sebelum teks kutipan, nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka masuk ke dalam teks, diikuti dengan tahun terbitan diantara tanda kurung
-Apabila ditulis sesudah teks kutipan, rujukan ditulis di antara tanda kurung, dimulai dengan nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka, titik dua, dan diakhiri dengan tahun terbitan

3. Kutipan pada catatan kaki
Kutipan selalu ditempatkan pada spasi rapat, meskipun kutipan itu singkat saja. Kutipan diberi tanda kutip, dikutip seperti dalam teks asli.

4. Kutipan atas ucapan lisan
Harus dilegalisir dulu oleh pembicara atau sekretarisnya (bila pembicara seorang pejabat). Dapat dimasukkan ke dalam teks sebagai kutipan langsung atau kutipan tidak langsung.

5. Kutipan dalam kutipan
Kadang-kadang terjadi bahwa dalam kutipan terdapat lagi kutipan.
Dalam hal ini dapat ditempuh dua cara:
1) bila kutipan asli tidak memakai tanda kutip, kutipan dalam kutipan dapat mempergunakan tanda kutip tunggal atau tanda kutip ganda
2) bila kutipan asli memakai tanda kutip tunggal, kutipan dalam kutipan memakai tanda kutip ganda. Sebaliknya bila kutipan asli memakai tanda kutip ganda, kutipan dalam kutipan memakai tanda kutip tunggal.

6. Kutipan langsung pada materi
Kutipan langsung dimulai dengan materi kutipan hingga perhentian terdekat, (dapat berupa koma, titik koma, atau titik) disusul dengan sisipan penjelas siapa yang berbicara.
Contoh:
“Jelas,” kata Prof. Haryati, “kosa kata bahasa Indonesia banyak mengambil dari kosa kata bahasa Sansekerta.”
Catatan: Kutipan yang panjang sebaiknya dimasukkan dalam lampiran

Daftar Pustaka

Menurut Gorys Keraf (1997 :213) yang dimaksud dengan daftar kepustakaan atau bibliografi adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel- artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan atau sehagian dan karangan yang tengah digarap.

Unsur-unsur Daftar Pustaka
Untuk persiapan yang baik agar tidak ada kesulitan dalam penyusunan daftar pustaka, tiap penulis harus mengetahui pokok-pokok mana yang harus dicatat. Pokok yang paling penting yang harus dimasukkan dalam sebuah daftar pustaka adalah:
1) Nama pengarang, yang dikutip secara lengkap.
2) Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
3) Data publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke-berapa, nomor jilid, dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
4) Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid. nomor dan tahun.

Fungsi Daftar Pustaka
• Untuk memberikan informasi bahwa pernyataan dalam karangan itu bukan hasil pemikiran penulis sendiri, tapi hasil pemikiran orang lain.
• Untuk memberikan informasi selengkapnya tentang sumber kutipan sehingga dapat ditelusuri bila perlu
• Apabila pembaca berkehendak mendalami lebih jauh pernyataan yang dikutip, dapat membaca sendiri referensi yang menjadi sumber kutipan

Penulisan Daftar Pustaka
-Ditulis berdasarkan urutan penunjukan referensi pada bagian pokok tulisan ilmiah.
-Ditulis menurut kutipan-kutipan
-Menggunakan nomor urut, jika tidak dituliskan secara alfabetik
-Nama pengarang asing ditulis dengan format : nama keluarga, nama depan.
Nama pengarang Indonesia ditulis normal, yaitu : nama depan + nama keluarga
-Gelar tidak perlu disebutkan.
-Setiap pustaka diketik dengan jarak satu spasi (rata kiri), tapi antara satu pustaka dengan pustaka lainnya diberi jarak dua spasi.
-Bila terdapat lebih dari tiga pengarang, cukup ditulis pengarang pertama saja dengan tambahan ‘et al’.
-Penulisan daftar pustaka tergantung jenis informasinya yang secara umum memiliki urutan sebagai berikut :
Nama Pengarang, Judul karangan (digarisbawah / tebal / miring), Edisi, Nama Penerbit, Kota Penerbit, Tahun Penerbitan.

Contoh :
Buku :
Date, C.J., An Introduction To Database Systems, 6th ed., Addison Willey Publishing Wesley Company, Inc., Reading Massachusetts, 1995.

Anonim :
Anonim, Sistem Pemerintahan di Indonesia, cetakan pertama, PT. Gunung Agung, Jakarta 1983.

Majalah / Jurnal :
Cattell R.G.G. and Skeen.J. “Object Operation Benchmark”. ACM Trans. Database Systems, 17, 1992, pp. 1 - 31.
(Jika ada, nama dan kota penerbit dapat dicantumkan di antara volume dan halaman, nama jurnal digarisbawah / tebal / miring).

Lebih dari tiga penulis :
Stoica, I, et all., “A Proportional Share Resource Allocation Algorithm for Real-Time, Time-Shared Systems”, In Proceedings Real-Time Systems Symposium, IEEE Comp. Press, Desember, 1996, hlm. 288 - 299.


Referensi :
  • Woro Aryamdini, Pusat Pengembangan Bahan Ajar UMB-Bahasa Indonesia
  • Library Docstoc

Topik dan Judul

Tuesday, November 30, 2010
Topik
Topik merupakan suatu landasan atau pokok pembicaraan sebelum melakukan penulisan. Sebelum membuat suaut tulisan, penulis biasanya menentukan topik terlebih dahulu.Selanjutnya topik ini akan dikembangkan menjadi cakupan yang lebih luas. Ciri-ciri topik biasanya suatu permasalahan yang masih bersifat umum dan belum terurai.

Syarat membuat topik
1. Menarik minat
2. Sesuai dengan kemampuan pengetahuan
3. Jelas ruang lingkup dan batasannya
4. Ditunjang dengan bahan atau sumber yang memadai

Cara Membatasi Topik
1. Menurut tempat
2. Menurut waktu
3. Menurut hubungan sebab-akibat
4. Menurut pembagian bidang kehidupan manusia
5. Menurut aspek khusus-umum
6. Menurut objek materi dan objek formal

Judul
Judul merupakan perincian atau penjabaran dari topik yang telah ditentukan sebelumnya. Judul lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau variabel yang akan dibahas. Perbedaan judul dan topik yaitu :
• Judul : bersifat spesifik dan mengandung permasalahan yang lebih jelas dan terarah, pembuatan judul berawal dari topik.
• Topik : bersifat umum, belum menggambarkan sudut pandang penulis
Sedangkan persamaan topik dan judul dapat dijadikan judul suatu karangan.

Syarat membuat judul
1. Singkat dan padat,
2. Menarik perhatian,
3. Menggambarkan garis besar (inti) pembahasan.

Kerangka Karangan

Kerangka karangan merupakan rencana penulisan yang terdiri dari pokok-pokok pikiran dari suatu karangan yang akan ditulis, dan merupakan rangkaian gagasan yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur. Biasanya kerangka karangan terdiri dari bagian pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan, dirumuskan secara ringkas latar belakang pentingnya suatu tema dibahas. Bagian isi memuat point-point pokok pikiran yang akan ditulis, sedangkan pada bagian penutup berisi kesimpulan dan atau saran-saran.

Tujuan dari pembuatan kerangka karangan yaitu:
1. Agar karangan tidak menyimpang dari tema yang telah ditentukan.
2. Agar pokok pikiran-pokok pikiran tersusun secara rapi dan teratur.
3. Agar tidak ada pokok pikiran yang kontradiktif dalam karangan.
4. Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu.

Macam-macam kerangka karangan

• Berdasarkan sifat rinciannya:
1. Kerangka Karangan Non-Formal
2. Kerangka Karangan Formal

• Berdasarkan perumusan teksnya:
1. Kerangka Kalimat
2. Kerangka Topik

Langkah- langkah Penyusunan Kerangka Karangan
1. Merumuskan tema yang jelas berdasarkan suatu topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik yang telah dibuat sebelumnya. Tema yang dirumuskan haruslah berbentuk tesis atau pengungkapan maksud.
2. Mengumpulkan topik-topik bawahan atatu topik-topik penjelas yang dianggap merupakan rincian dari tesis atau pengungkapan maksud.
3. Mengadakan evaluasi semua topik bawahan yang telah tercatat pada langkah kedua di atas
4. Untuk mendapatkan sebuah kerangka karangan yang sangat rinci maka langkah kedua dan ketiga dikerjakan berulang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.
5. Langkah terkahir yaitu menentukan sebuah pola susunan yang paling sesuai untuk mengurutkan semua rincian dari tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan mempergunakan semua langkah di atas.

Alinea

Monday, November 29, 2010
Alinea disebut juga dengan paragaf. Alinea atau paragraf merupakan sebuah karangan yang memiliki pokok pikiran dan terdiri dari beberapa kalimat yang saling berhubungan dan membentuk sebuah gagasan. Di setiap paragraf harus mengandung dua bagian penting, yakni kalimat pokok (pokok pikiran) dan kalimat penjelas.

• Kalimat Pokok (pokok pikiran)
Kalimat pokok adalah kalimat inti dari gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.

• Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan dari kalimat pokok suatu paragraf.

Syarat-syarat pembentukan alinea

Untuk membentuk sebuah alinea yang baik, ada beberapa syarat yakni sebagai berikut:
1. Kesatuan, setiap kalimat di dalam sebuah paragraf diikat oleh satu pokok pikiran dan merupakan satu kesatuan. Sehingga dalam pengembangan dalam suatu kalimat tidak menyimpang dari pokok pikiran.
2. Koherensi atau Kepaduan, hubungan antara suatu kalimat dengan kalimat yang lainnya membentuk sebuah hubungan timbal balik.
3. Kelengkapan, alinea berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik/pokok pikiran.

Jenis-jenis Alinea

• Berdasar Letak Pokok Pikiran
1. Alinea deduktif : Kalimat utamanya terdapat pada awal alinea
2. Alinea induktif : Kalimat utamanya terdapat pada akhir alinea
3. Alinea campuran : Kalimat utamanya terletak di awal dan ditegaskan kembali pada bagian akhir
4. Alinea diskriptif : Kalimat utama yang tersirat pada seluruh kalimat di alinea tersebut.

• Berdasar Sifat dan Tujuan
1. Paragraf pembuka, paragraf pembuka berperan sebagai pengantar untuk sampai kepada masalah yang akan dijelaskan.
2. Paragraf penghubung, paragraf penghubung berisi inti persoalan yang akan dijelaskan.
3. Paragraf penutup, paragraf penutup berisi kesimpulan atau hal penting dari paragraf penghubung

• Bedasar Isi
1. Paragraf Narasi, menceritakan suatu peristiwa atau kejadian
2. Paragraf Deskripsi, melukiskan suatu objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
3. Paragraf Eksposisi, memberi informasi atau pengetahuan tentang suatu topik
4. Pargraf Argumentasi, membuktikan kebenaran tentang sesuatu
5. Paragraf Persuasi, mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu

Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat dimengerti dan dipahami oleh pembaca sesuai dengan maksud dari penulis. Oleh karena itu kalimat yang disampaikan harus sesuai dengan syarat-syarat kalimat yang baik seperti struktur, pilihan kata, hubungan antarbagiannya, dan ejaan yang harus sesuai dengan kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
Kesalahan yang umum terjadi dalam penulisan kalimat yaitu :

a. Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat
Contoh : Dia rajin belajar agar supaya lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri.
(Dia rajin belajar agar lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri).

b. Penggunaan kata berlebih yang ‘mengganggu’ struktur kalimat
Contoh : Menurut koran yang saya baca mengabarkan bahwa terminal akan dipindahkan.
(Menurut koran yang saya baca, terminal akan dipindahkan )

c. Penggunaan imbuhan yang kacau
Contoh : Dalam pelajaran fisika mengajarkan juga teori kalkulus.
(Dalam pelajaran fisika diajarkan juga teori kalkulus)

d. Kalimat tak selesai
Contoh : Mobil yang bagus yang tabrakan itu.
(Mobil yang bagus itu tabrakan.)

e. Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku
Contoh : Kakak menyuci piring di kamar mandi.
(Kakak mencuci piring di kamar mandi.)

f. Penggunaan tidak tepat kata ‘di mana’ dan ‘yang mana’
Contoh : Saya membencinya di mana sifat-sifatnya sangat buruk.
(Saya membencinya karena sifat-sifatnya sangat buruk.)
- Saya membutuhkan air yang mana air itu bersih.
(Saya membutuhkan air yang bersih.)

g. Penggunaan kata ‘daripada’ yang tidak tepat
Contoh : Tendangan daripada David Beckham berhasil membuat gol.
(Tendangan David Beckham berhasil membuat gol.)

h. Pilihan kata yang tidak tepat
Contoh : Bajunya ada di saya.
(Bajunya ada pada saya.)

i. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti
Contoh : Pilot Adam Air yang jatuh tidak ditemukan.
(Adam Air jatuh, Pilotnya tidak ditemukan)

j. Pengulangan kata yang tidak perlu
Contoh : Dalam sehari saya dapat membuat 6 judul tulisan sehari.
(Dalam sehari saya dapat membuat 6 judul tulisan.)

k. Kata ‘kalau’ yang dipakai secara salah
Contoh : Orang tua itu mengatakan kalau merokok dapat merusak mental.
(Orang tua itu mengatakan bahwa merokok dapat merusak mental.)

Unsur-unsur Kalimat dan Pola Kalimat Dasar

Thursday, November 25, 2010
Unsur-unsur kalimat

Kalimat adalah gabungan dari dua buah atau beberapa kata yang menghasilkan suatu pengertian. Di dalam sebuah kalimat harus memiliki subjek dan predikat. Kalimat merupakan satuan bahasa tekecil, baik dalam wujud tulisan maupun lisan yang mengungkapakan suatu pikiran dengan jelas dan utuh. Di dalam tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, ataupun tanda tanya. Sedangkan di dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, keras lembut, ditandai dengan jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir.
Kalimat dibangun dari beberapa unsur, sehingga dari gabungan beberapa unsur tersebut akan dihasilkan suatu kalimat yang jelas dan mengandung arti. Unsur-unsur kalimat adalah :

• Subyek (S)
• Predikat (P)
• Objek (O)
• Keterangan (K)
• Pelengkap (Pel)

Subyek dan predikat merupakan unsur pokok dalam suatu kalimat, obyek merupakan bagian kalimat yang berfungsi melengkapi predikat, dan pelengkap merupakan bagian kalimat yang memiliki kesamaan dengan obyek, sedangkan keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat. Kelima unsur ini tidak selalu bersama-sama ada dalam satu kalimat. Kadang-kadang satu kalimat hanya terdiri dari S – P, S – P - O, S - P- Ket, S – P – O – Ket.

1. Subyek (S)
Subyek merupakan sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan, dibentuk dengan kata benda atau sesuatu yang dibendakan, dan untuk menentukan subyek dari suatu kalimat dapat digunakan kata tanya apa atau siapa di depan predikat.

2. Predikat (P)
Predikat merupakan bagian yang memberi keterangan tentang sesuatu yang berdiri sendiri. Memberi keterangan tentang sesuatu yang berdiri sendiri adalah menyatakan apa yang dikerjakan atau dalam keadaan apakah subjek itu. Oleh karena itu, predikat biasanya terjadi dari kata kerja atau kata keadaan. Untuk menentukan predikat dari suatu kalimat dapat digunakan kata tanya mengapa, artinya dalam keadaan apa, bagaimana, atau mengerjakan apa?

3. Objek (O)
Kehadiran suatu objek di dalam suatu kalimat dituntut oleh predikat di dalam suatu kalimat aktif. Letak objek selalu setelah predikat. Objek dapat dikenali dengan memperhatikan jenis predikat yang dilengkapinya dan ciri khas objek itu sendiri.

4. Keterangan (K)
Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letak. Keterangan dapat berada di akhir, di awal, dan bahkan di tengah kalimat. Beberapa macam keterangan yaitu: keterangan tempat, ditandai oleh: di, ke, dari, dalam, pada; keterangan waktu, ditandai oleh: sebelum, sesudah, selama, sepanjang; keterangan alat, ditandai oleh: dengan; keterangan tujuan, ditandai oleh: agar/supaya, untuk, bagi, demi; keterangan cara, ditandai oleh: dengan cara, secara, dengan jalan; keterangan penyerta, ditandai oleh: dengan, bersama, beserta; keterangan perbandingan, ditandai oleh: seperti, bagaikan, laksana; keterangan sebab, ditandai oleh: karena, sebab.

5. Pelengkap
Pelengkap dan objek memiliki kesamaan yaitu bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat, sama- sama menempati posisi di belakang predikat, tidak didahului preposisi. Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap.
Contoh : Orang itu memberikan anaknya tas baru.
Unsur kalimat tas baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat.

Contoh Kalimat :
1. Mahasiswa itu (S) menulis (P).
2. Mahasiswa itu (S) menulis (P) buku (O).
3. Mahasiswa itu (S) menulis (P) buku (O) di kamar (ket.tempat).
4. Dosen (S) berdiskusi (P) di aula (Ket.tempat).


Pola Kalimat Dasar


kalimat dasar ialah kalimat yang berisi informasi pokok dalam struktrur inti, belum mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa penambahan unsur seperti penambahan keterangan kalimat ataupun keterangan subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap.

Macam-macam Kalimat dasar :
1. Kalimat dasar berpola SPOK
Kalimat dasar ini mempunyai unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan.

2. Kalimat dasar berpola SPOPel
Kalimat dasar yang mempunyai unsur subjek, predikat, objek, dan pelengkap.

3. Kalimat dasar berpola SPO
Kalimat yang mempunyai unsur subjek, predikat, dan objek.

4. Kalimat dasar berpola SPPel
Kalimat yang mempunyai unsur subjek, predikat, dan pelengkap.

5. Kalimat dasar berpola SPK
Kalimat dasar ini mempunyai unsur subjek, predikat, dan harus memiliki unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat.

6. Kalimat dasar berpola SP (P: Verba)
Kalimat yang mempunyai unsur subjek dan predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal dan predikat berupa verba intransitif, tidak ada objek, pelengkap, ataupun keterangan yang wajib.

7. Kalimat dasar berpola SP (P: Nomina)
kalimat yang memiliki unsur subjek dan predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal dan predikat juga berupa nomina atau frasa nominal. Nomina predikat biasanya mempunyai pengertian lebih luas daripada nomina subjek dan berupa nomina penggolong (identifikasi).

8. Kalimat dasar berpola SP (P: Adjektiva)
Kalimat ini memiliki unsur subjek dan predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal dan predikat berupa adjektiva.

Diksi

Sunday, October 17, 2010

Diksi (pilihan kata) merupakan hasil dari pemilihan kata tertentu untuk dipakai dalam membuat tulisan seperti kalimat, paragraph. Diksi bukan hanya tentang pilihan kata tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.

· Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pilihan kata yaitu :

1. Kemampuan memilih kata apabila seseorang memilki kosakata yang luas.

2. Kemampuan membedakan secara tepat kata-kata yang memiliki nuansa serumpun.

3. Kemampuan untuk memilih kata-kata yang tepat untuk situasi atau konteks tertentu.


· Syarat Ketepatan Pemilihan Kata

1. Dapat membedakan antara denotasi dan konotasi.

Contoh : Bunga melati dengan bunga bank

2. Dapat membedakan kata-kata yang hampir bersinonim.

Contoh : Pengubah dan Peubah

3. Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip ejaanya.

Contoh : Intensif – insetif , Preposisi – proposisi

4. Dapat memahami dengan tepat makna kata - kata abstrak.

Contoh : Kebijakan, kebajikan, kebijaksanaan.

5. Dapat memakai kata penghubung yang berpasang secara tepat.

Contoh : Antara….dan…. , Tidak….tetapi…

6. Dapat membedakan kata-kata umum dan kata khusus.

Contoh : Kata umum : melihat, Kata khusus : melirik, melotot, mengamati, mengawasi.

Ragam Bahasa

Klasifikasi ragam bahasa indonesia ada beberapa yaitu

· Ragam bahasa menurut golongan penutur bahasa

1. Ragam daerah, dikenal dengan nama logat atau dialeg

Pemakaian Bahasa Indonesia disetiap daerah tentunya berbeda. Perbedaan ini dapat dilihat dari dieleg atau logat berbahasa. Contohnya perbedaan dialeg daerah sumatera, jawa, bali, papua. Setiap daerah pasti memliki dialeg yang berbeda.

2. Ragam pendidikan, yang terdiri atas ragam bahasa baku dan bahasa tidak baku

Dalam ragam pendidikan biasanya terjadi dalam pelafalan kata bahasa serapan. Seperti apotek dilafalkan dengan apotik, fakultas dilafalkan dengan pakultas. Perbedaan lainnya dapat dilhat dalam tata bahasa, seperti menyuci seharusnya mencuci.

3. Sikap penutur dikenal dengan langgam atau gaya

Ragam bahasa dipengaruhi setiap penutur terhadap kawan berbicara. Semakin formal sikap penutur terhadap kawan berbicara akan semakin resmi dan semakin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat keformalannya, semakin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

· Ragam bahasa menurut media/cara

1. Ragam Bahasa Lisan

Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang dihasilkan alat ucap dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan belajar tentang tata bahasa, lafal dan kosakata, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, mimik muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.

2. Ragam Bahasa Tulisan

Ragam bahasa tulisan adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis belajar tentang tata cara penulisan (ejaan yang disempurnakan), kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan suatu pendapat.

Ada tiga karakteristik Ragam Bahasa Tulis

· Accuracy (akurat) yaitu ketepatan segala pendapat atau gagasan yang dituliskan

· Bravety (ringkas) yaitu pengungkapan gagasan yang ringkas, tidak menggunakan kata-kata yang berlebihan.

· Clarity (jelas) yaitu tulisan mudah dipahami, penalaran jelas, tidak menimbulkan makna ambigu.

Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia

Secara umum fungsi Bahasa Indonesia merupakan sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder.

Menurut Hallyday (1992) Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk keperluan:

1. Fungsi instrumental, bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu

2. Fungsi regulatoris, bahasa digunakann untuk mengendalikan prilaku orang lain

3. Fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain

4. Fungsi personal, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain

5. Fungsi heuristik, bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan sesuatu

6. Fungsi imajinatif, bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi

7. Fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi

Sedangkan sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai :

ü Bahasa resmi kenegaraan

Pada upacara-upacara resmi kenegaraan seperti memperingati hari ulang tahun kemerdekaan, pembina upacara berpidato menggunakan Bahasa Indonesia.

ü Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan

Dalam kegiatan/proses belajar-mengajar bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia.

ü Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi

Penyajian buku pelajaran, penulisan buku atau penerjemah, dilakukaan dalam Bahasa Indonesia.

ü Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah

Di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah, bahasa Indonesia digunakan dalam hubungan antarbadan pemerintah dan mengabarkan informasi kepada masyarakat luas.

ü Alat pemersatu berbagai suku bangsa

Berbagai suku bangsa yang berbeda dapat saling berkomunikasi dengan satu bahasa yang dapat dipahami bersama yakni Bahasa Indonesia, tanpa menghilangkan identitas kesukuan dan kesetiaannya pada nilai-nilai social budaya serta bahasa daerahnya.

ü Lambang identitas nasional

Disamping bendera dan Negara Indonesia yang kita junjung tinggi sebagai bagian dari identitas RI, bahasa Indonesia juga merupakan unsur identitas bangsa yang harus dijunjung tinggi juga.

ü Bahasa indonesia sebagai alat komunikasi.

Merupakan sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun tulisan.

ü Lambang kebanggaan kebangsaan.

Mencerminkan nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia.Wajib untuk dijunjung tinggi dan dipertahankan.